saya dapet copas dari catatan temen sumpah keren banget..
Ngakunya
Kamu Aktifis ?? Baca dulu renungan ini...!!
December 28, 2011 at 3:12am
Ngakunya Kamu Aktifis ??
Baca dulu renungan ini...!!
"DIMANA RUMAHMU NAK..? "
Orang bilang anakku seorang aktifis . Kata mereka namanya tersohor dikampusnya
sana . Orang bilang anakku seorang aktivis. Dengan segudang kesibukan yang
disebutnya amanah umat . Orang bilang anakku seorang aktivis .Tapi bolehkah aku
sampaikan padamu nak ? Ibu bilang engkau hanya seorang putra kecil ibu yang
lugu.
Anakku, sejak mereka bilang engkau seorang aktivis ibu kembali mematut diri
menjadi ibu seorang aktivis. Dengan segala kesibukkanmu, ibu berusaha mengerti
betapa engkau ingin agar waktumu terisi dengan segala yang bermanfaat. Ibu
sungguh mengerti itu nak, tapi apakah menghabiskan waktu dengan ibumu ini
adalah sesuatu yang sia-sia nak ? Sungguh setengah dari umur ibu telah ibu
habiskan untuk membesarkan dan menghabiskan waktu bersamamu nak, tanpa pernah
ibu berfikir bahwa itu adalah waktu yang sia-sia...
Anakku, kita memang berada disatu atap nak, di atap yang sama saat dulu engkau
bermanja dengan ibumu ini .Tapi kini dimanakah rumahmu nak ? ibu tak lagi
melihat jiwamu di rumah ini. Sepanjang hari ibu tunggu kehadiranmu dirumah,
dengan penuh doa agar Allah senantiasa menjagamu . Larut malam engkau kembali
dengan wajah kusut. Mungkin tawamu telah habis hari ini, tapi ibu berharap
engkau sudi mengukir senyum untuk ibu yang begitu merindukanmu . Ah, lagi-lagi
ibu terpaksa harus mengerti, bahwa engkau begitu lelah dengan segala aktivitasmu
hingga tak mampu lagi tersenyum untuk ibu . Atau jangankan untuk tersenyum,
sekedar untuk mengalihkan pandangan pada ibumu saja engkau engkau, katamu
engkau sedang sibuk mengejar deadline. Padahal, andai kau tahu nak, ibu ingin
sekali mendengar segala kegiatanmu hari ini, memastikan engkau baik-baik saja,
memberi sedikit nasehat yang ibu yakin engkau pasti lebih tahu. Ibu memang
bukan aktivis sekaliber engkau nak, tapi bukankah aku ini ibumu ? yang 9 bulan
waktumu engkau habiskan didalam rahimku...
Anakku, ibu mendengar engkau sedang begitu sibuk nak. Nampaknya engkau begitu
mengkhawatirkan nasib organisasimu, engkau mengatur segala strategi untuk
mengkader anggotamu . Engkau nampak amat peduli dengan semua itu, ibu bangga
padamu. Namun, sebagian hati ibu mulai bertanya nak, kapan terakhir engkau
menanyakan kabar ibumu ini nak ? Apakah engkau mengkhawatirkan ibu seperti
engkau mengkhawatirkan keberhasilan acaramu ? kapan terakhir engkau menanyakan
keadaan adik-adikmu nak ? Apakah adik-adikmu ini tidak lebih penting dari
anggota organisasimu nak ?
Anakku, ibu sungguh sedih mendengar ucapanmu. Saat engkau merasa sangat tidak
produktif ketika harus menghabiskan waktu dengan keluargamu . Memang nak,
menghabiskan waktu dengan keluargamu tak akan menyelesaikan tumpukan tugas yang
harus kau buat, tak juga menyelesaikan berbagai amanah yang harus kau lakukan .
Tapi bukankah keluargamu ini adalah tugasmu juga nak ? bukankah keluargamu ini
adalah amanahmu yang juga harus kau jaga nak ?
Anakku, ibu mencoba membuka buku agendamu. Buku agenda sang aktivis. Jadwalmu
begitu padat nak, ada rapat disana sini, ada jadwal mengkaji, ada jadwal
bertemu dengan tokoh-tokoh penting. Ibu membuka lembar demi lembarnya, disana
ada sekumpulan agendamu, ada sekumpulan mimpi dan harapanmu. Ibu membuka lagi
lembar demi lembarnya, masih saja ibu berharap bahwa nama ibu ada
disana.Ternyata memang tak ada nak, tak ada agenda untuk bersama ibumu yang
renta ini.Tak ada cita-cita untuk ibumu ini . Padahal nak, andai engkau tahu sejak
kau ada dirahim ibu tak ada cita dan agenda yang lebih penting untuk ibu selain
cita dan agenda untukmu, putra kecilku...
Kalau boleh ibu meminjam bahasa mereka, mereka bilang engkau seorang
organisatoris yang profesional. Boleh ibu bertanya nak, dimana
profesionalitasmu untuk ibu ? dimana profesionalitasmu untuk keluarga ? Dimana
engkau letakkan keluargamu dalam skala prioritas yang kau buat ?
Ah, waktumu terlalu mahal nak. Sampai-sampai ibu tak lagi mampu untuk membeli
waktumu agar engkau bisa bersama ibu...
Setiap pertemuan pasti akan menemukan akhirnya. Pun pertemuan dengan orang
tercinta, ibu, ayah, kakaK dan adik . Akhirnya tak mundur sedetik tak maju
sedetik. Dan hingga saat itu datang, jangan sampai yang tersisa hanyalah
penyesalan.
Tentang rasa cinta untuk mereka yang juga masih malu tuk diucapkan .Tentang
rindu kebersamaan yang terlambat teruntai...
Untuk mereka yang kasih sayangnya tak kan pernah putus, untuk mereka sang
penopang semangat juang ini . Saksikanlah, bahwa tak ada yang lebih berarti
dari ridhamu atas segala aktivitas yang kita lakukan. Karena tanpa ridhamu,
Mustahil kuperoleh ridhaNya....
https://www.facebook.com/notes/fsi-al-kautsar-sunnah/ngakunya-kamu-aktifis-baca-dulu-renungan-ini/10150537515574467
Baca dulu renungan ini...!!
"DIMANA RUMAHMU NAK..? "
Orang bilang anakku seorang aktifis . Kata mereka namanya tersohor dikampusnya sana . Orang bilang anakku seorang aktivis. Dengan segudang kesibukan yang disebutnya amanah umat . Orang bilang anakku seorang aktivis .Tapi bolehkah aku sampaikan padamu nak ? Ibu bilang engkau hanya seorang putra kecil ibu yang lugu.
Anakku, sejak mereka bilang engkau seorang aktivis ibu kembali mematut diri menjadi ibu seorang aktivis. Dengan segala kesibukkanmu, ibu berusaha mengerti betapa engkau ingin agar waktumu terisi dengan segala yang bermanfaat. Ibu sungguh mengerti itu nak, tapi apakah menghabiskan waktu dengan ibumu ini adalah sesuatu yang sia-sia nak ? Sungguh setengah dari umur ibu telah ibu habiskan untuk membesarkan dan menghabiskan waktu bersamamu nak, tanpa pernah ibu berfikir bahwa itu adalah waktu yang sia-sia...
Anakku, kita memang berada disatu atap nak, di atap yang sama saat dulu engkau bermanja dengan ibumu ini .Tapi kini dimanakah rumahmu nak ? ibu tak lagi melihat jiwamu di rumah ini. Sepanjang hari ibu tunggu kehadiranmu dirumah, dengan penuh doa agar Allah senantiasa menjagamu . Larut malam engkau kembali dengan wajah kusut. Mungkin tawamu telah habis hari ini, tapi ibu berharap engkau sudi mengukir senyum untuk ibu yang begitu merindukanmu . Ah, lagi-lagi ibu terpaksa harus mengerti, bahwa engkau begitu lelah dengan segala aktivitasmu hingga tak mampu lagi tersenyum untuk ibu . Atau jangankan untuk tersenyum, sekedar untuk mengalihkan pandangan pada ibumu saja engkau engkau, katamu engkau sedang sibuk mengejar deadline. Padahal, andai kau tahu nak, ibu ingin sekali mendengar segala kegiatanmu hari ini, memastikan engkau baik-baik saja, memberi sedikit nasehat yang ibu yakin engkau pasti lebih tahu. Ibu memang bukan aktivis sekaliber engkau nak, tapi bukankah aku ini ibumu ? yang 9 bulan waktumu engkau habiskan didalam rahimku...
Anakku, ibu mendengar engkau sedang begitu sibuk nak. Nampaknya engkau begitu mengkhawatirkan nasib organisasimu, engkau mengatur segala strategi untuk mengkader anggotamu . Engkau nampak amat peduli dengan semua itu, ibu bangga padamu. Namun, sebagian hati ibu mulai bertanya nak, kapan terakhir engkau menanyakan kabar ibumu ini nak ? Apakah engkau mengkhawatirkan ibu seperti engkau mengkhawatirkan keberhasilan acaramu ? kapan terakhir engkau menanyakan keadaan adik-adikmu nak ? Apakah adik-adikmu ini tidak lebih penting dari anggota organisasimu nak ?
Anakku, ibu sungguh sedih mendengar ucapanmu. Saat engkau merasa sangat tidak produktif ketika harus menghabiskan waktu dengan keluargamu . Memang nak, menghabiskan waktu dengan keluargamu tak akan menyelesaikan tumpukan tugas yang harus kau buat, tak juga menyelesaikan berbagai amanah yang harus kau lakukan . Tapi bukankah keluargamu ini adalah tugasmu juga nak ? bukankah keluargamu ini adalah amanahmu yang juga harus kau jaga nak ?
Anakku, ibu mencoba membuka buku agendamu. Buku agenda sang aktivis. Jadwalmu begitu padat nak, ada rapat disana sini, ada jadwal mengkaji, ada jadwal bertemu dengan tokoh-tokoh penting. Ibu membuka lembar demi lembarnya, disana ada sekumpulan agendamu, ada sekumpulan mimpi dan harapanmu. Ibu membuka lagi lembar demi lembarnya, masih saja ibu berharap bahwa nama ibu ada disana.Ternyata memang tak ada nak, tak ada agenda untuk bersama ibumu yang renta ini.Tak ada cita-cita untuk ibumu ini . Padahal nak, andai engkau tahu sejak kau ada dirahim ibu tak ada cita dan agenda yang lebih penting untuk ibu selain cita dan agenda untukmu, putra kecilku...
Kalau boleh ibu meminjam bahasa mereka, mereka bilang engkau seorang organisatoris yang profesional. Boleh ibu bertanya nak, dimana profesionalitasmu untuk ibu ? dimana profesionalitasmu untuk keluarga ? Dimana engkau letakkan keluargamu dalam skala prioritas yang kau buat ?
Ah, waktumu terlalu mahal nak. Sampai-sampai ibu tak lagi mampu untuk membeli waktumu agar engkau bisa bersama ibu...
Setiap pertemuan pasti akan menemukan akhirnya. Pun pertemuan dengan orang tercinta, ibu, ayah, kakaK dan adik . Akhirnya tak mundur sedetik tak maju sedetik. Dan hingga saat itu datang, jangan sampai yang tersisa hanyalah penyesalan.
Tentang rasa cinta untuk mereka yang juga masih malu tuk diucapkan .Tentang rindu kebersamaan yang terlambat teruntai...
Untuk mereka yang kasih sayangnya tak kan pernah putus, untuk mereka sang penopang semangat juang ini . Saksikanlah, bahwa tak ada yang lebih berarti dari ridhamu atas segala aktivitas yang kita lakukan. Karena tanpa ridhamu, Mustahil kuperoleh ridhaNya....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar