DI TENGAH meningkatnya pengganguran terdidik dari ke tahun ke tahun
terdapat peluang bagi perawat Indonesia untuk dikirim keluar negeri
sebagai perawat profesional. Namun masih banyak kendala untuk proses
pengiriman tenaga perawat ke luar negeri.
"Saat ini rasio
perbandingan jumlah perawat dan penduduk Indonesia 1 banding 44. Sebuah
angka yang rendah jika dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia,
Thailand dan Filipina. Meski jumlah tersebut rendah, sepertinya tidak
memungkinkan lagi bagi <I>health provider<P> untuk menerima
tambahan perawat baru karena besaran beban keuangan," ungkap Ketua
Program Studi Keperawatan S1 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes)
Yogyakarta, Istichomah SKep Ns MKes di kampus setempat Jalan Nitikan
Baru Yogya, Sabtu (9/3).
Perawat Indonesia mempunyai peluang
bekerja di Timur Tengah (Saudia Arabia, Uni Emirat Arab dan Kuwait).
Saat ini banyak perawat Indonesia bekerja di negara-negara maju seperti
Amerika Serikat, Australia, Kanada, Inggris, Belanda, Norwegia.
Kebutuhan perawat Indonesia di dunia Barat meningkat pesat. "Hal ini
sejalan dengan penuaan usia <I>baby boomer<P> dan menurunnya
keinginan menjadi perawat pada generasi muda di Barat. Diperkirakan, di
Amarika saja kekurangan perawat profesional berkisar 1 juta orang di
tahun 2015," tambahnya.
Dijelaskan, saat ini kekurangan perawat
di dunia ditutup oleh perawat dari tiga negara Asia, yakni, Filipina,
China dan India. Padahal secara geografis, Indonesia negara dengan
jumlah penduduk terbesar keempat di dunia. "Karena itu peran Indonesia
dalam memasok perawat profesional ke luar negeri hal yang bisa
dilaksanakan," tandasnya.
Dari sudut supply terlihat besarnya
jumlah akademi perawat yang mendidik perawat D3 yang jumlahnya lebih
dari 1.000 Akper di seluruh Indonesia. Jumlah sarjana keperawatan masih
relatif kecil karena program studi sarjana keperawatan baru sekitar
duapuluhan dan baru dimulai 10 tahun lalu. " Kelemahan mendasar, para
lulusan perawat ini standar kompetensinya tidak diakui dunia
internasional," imbuh Istichomah seraya mencontohkan, lulusan perawat
Malaysia diakui oleh negara Commonwealth dan lulusan perawat Filipina
langsung bisa bekerja di Amerika dan Eropa.
Kelemahan kedua,
perawat Indonesia kemampuan bahasa Inggris menyedihkan. Padahal
kemampuan berbahasa Inggris sangat dibutuhkan dalam kompetisi tingkat
internasional. Begitu juga soal ketrampilan, perawat Indonesia masih
kurang, terlihat dari segi skoring <I>the national council
licensure examination<P> (NCLEX) yang masih rendah. Ujian NCLEX
merupakan prasyarat perawat Indonesia untuk dapat bekerja di luar
negeri.
"Sebagai gambaran, skor yang diperoleh perawat Indonesia
hanya mencapai angka 40. Padahal skoring yang dibutuhkan untuk bekerja
di Eropa antara 50 sampai 70. Bahkan di Amerika Serikat skoring dipatok
70 sampai 80," katanya.
Kunjungi Thailand
Dari
latarbelakang tersebut Stikes Yogyakarta difasilitasi Asosiasi Institusi
Pendidikan Ners Indonesia (AIPNI) pada 20 Desember 2012 mengikuti
program menjalin kerja sama dengan institusi luar negeri yang
berpengalaman menyalurkan tenaga keperawatan di dunia internasional.
Negara yang menjadi mitra adalah Tahiland yang mempunyai beberapa
<I>college nursing<P>. Pada 18-21 Februari 2013, Istichomah
bersama Ketua Stikes Yogyakarta Sri Handayani SKep NS MKes mengunjungi
Thailand melakukan kerja sama dengan lembaga keperawatan Boromarajonani
College Nursing Supasithiprasong (BCNSP).
Kerja sama itu untuk
membangun <I>networking<P> bagi Stikes Yogyakarta dan
menyiapkan perawat ke lar negeri yang mampu bersaing di era global.
Ada perbedaan pendidikan keperawatan antara Indonesia dan Thailand. Di
Thailand menjadi sarjana S1 keperawatan diselesaikan dalam waktu empat
tahun. Karena perbedaan SKS, di Indonesia untuk menjadi sarjana perawat
S1 butuh waktu 5 tahun. Di Thailand pendidikan keperawatan punya
struktur yang bagus dan kualitas kontrol dilakukan setiap tahun.
"Yang paling penting, di Thailand punya standar tinggi dalam penerimaan
mahasiswa. Dosen rata-rata S2 dan S3. Yang cukup menarik, institusi
pendidikan di sana masing-masing punya rumah sakit sekaligus tempat
praktik bagi mahasiswanya," paparnya.
sumber : google.co.id