Keluarga & sSahabat Adalah Sebagian Dari Hidup
Keluarga adalah Motivatorku untuk Keberhasilan dalam menyongsong kehidupan, sahabat adalah penyemangatku dalam berbagai hal.. Nikmati Hidup Agar Menjadi Hidup..:)
Kamis, 18 September 2014
Perawat Indonesia Tak di akui Dunia ????
DI TENGAH meningkatnya pengganguran terdidik dari ke tahun ke tahun terdapat peluang bagi perawat Indonesia untuk dikirim keluar negeri sebagai perawat profesional. Namun masih banyak kendala untuk proses pengiriman tenaga perawat ke luar negeri.
"Saat ini rasio perbandingan jumlah perawat dan penduduk Indonesia 1 banding 44. Sebuah angka yang rendah jika dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia, Thailand dan Filipina. Meski jumlah tersebut rendah, sepertinya tidak memungkinkan lagi bagi <I>health provider<P> untuk menerima tambahan perawat baru karena besaran beban keuangan," ungkap Ketua Program Studi Keperawatan S1 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) Yogyakarta, Istichomah SKep Ns MKes di kampus setempat Jalan Nitikan Baru Yogya, Sabtu (9/3).
Perawat Indonesia mempunyai peluang bekerja di Timur Tengah (Saudia Arabia, Uni Emirat Arab dan Kuwait). Saat ini banyak perawat Indonesia bekerja di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Australia, Kanada, Inggris, Belanda, Norwegia. Kebutuhan perawat Indonesia di dunia Barat meningkat pesat. "Hal ini sejalan dengan penuaan usia <I>baby boomer<P> dan menurunnya keinginan menjadi perawat pada generasi muda di Barat. Diperkirakan, di Amarika saja kekurangan perawat profesional berkisar 1 juta orang di tahun 2015," tambahnya.
Dijelaskan, saat ini kekurangan perawat di dunia ditutup oleh perawat dari tiga negara Asia, yakni, Filipina, China dan India. Padahal secara geografis, Indonesia negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia. "Karena itu peran Indonesia dalam memasok perawat profesional ke luar negeri hal yang bisa dilaksanakan," tandasnya.
Dari sudut supply terlihat besarnya jumlah akademi perawat yang mendidik perawat D3 yang jumlahnya lebih dari 1.000 Akper di seluruh Indonesia. Jumlah sarjana keperawatan masih relatif kecil karena program studi sarjana keperawatan baru sekitar duapuluhan dan baru dimulai 10 tahun lalu. " Kelemahan mendasar, para lulusan perawat ini standar kompetensinya tidak diakui dunia internasional," imbuh Istichomah seraya mencontohkan, lulusan perawat Malaysia diakui oleh negara Commonwealth dan lulusan perawat Filipina langsung bisa bekerja di Amerika dan Eropa.
Kelemahan kedua, perawat Indonesia kemampuan bahasa Inggris menyedihkan. Padahal kemampuan berbahasa Inggris sangat dibutuhkan dalam kompetisi tingkat internasional. Begitu juga soal ketrampilan, perawat Indonesia masih kurang, terlihat dari segi skoring <I>the national council licensure examination<P> (NCLEX) yang masih rendah. Ujian NCLEX merupakan prasyarat perawat Indonesia untuk dapat bekerja di luar negeri.
"Sebagai gambaran, skor yang diperoleh perawat Indonesia hanya mencapai angka 40. Padahal skoring yang dibutuhkan untuk bekerja di Eropa antara 50 sampai 70. Bahkan di Amerika Serikat skoring dipatok 70 sampai 80," katanya.
Kunjungi Thailand
Dari latarbelakang tersebut Stikes Yogyakarta difasilitasi Asosiasi Institusi Pendidikan Ners Indonesia (AIPNI) pada 20 Desember 2012 mengikuti program menjalin kerja sama dengan institusi luar negeri yang berpengalaman menyalurkan tenaga keperawatan di dunia internasional. Negara yang menjadi mitra adalah Tahiland yang mempunyai beberapa <I>college nursing<P>. Pada 18-21 Februari 2013, Istichomah bersama Ketua Stikes Yogyakarta Sri Handayani SKep NS MKes mengunjungi Thailand melakukan kerja sama dengan lembaga keperawatan Boromarajonani College Nursing Supasithiprasong (BCNSP).
Kerja sama itu untuk membangun <I>networking<P> bagi Stikes Yogyakarta dan menyiapkan perawat ke lar negeri yang mampu bersaing di era global.
Ada perbedaan pendidikan keperawatan antara Indonesia dan Thailand. Di Thailand menjadi sarjana S1 keperawatan diselesaikan dalam waktu empat tahun. Karena perbedaan SKS, di Indonesia untuk menjadi sarjana perawat S1 butuh waktu 5 tahun. Di Thailand pendidikan keperawatan punya struktur yang bagus dan kualitas kontrol dilakukan setiap tahun.
"Yang paling penting, di Thailand punya standar tinggi dalam penerimaan mahasiswa. Dosen rata-rata S2 dan S3. Yang cukup menarik, institusi pendidikan di sana masing-masing punya rumah sakit sekaligus tempat praktik bagi mahasiswanya," paparnya.
sumber : google.co.id
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar